mengenai postur prajurit TNI
Sepanjang TNI dibentuk pada 5 Oktober 1945, Fahmi menyebutkan bahwa syarat minimum tinggi badan udah berulang kali berubah.
Namun pada masa-masa awal pasca-kemerdekaan itu tidak tersedia aturan yang baku mengenai postur prajurit TNI.
“Pembentukan tentara di Indonesia kan tidak segera profesional, mulanya dari laskar-laskar jadi postur dan tinggi badannya beragam. Awal-awal terbentuk, nggak tersedia syarat tinggi badan,” sadar dia.
Seiring penataan organisasi TNI dan proses militer di Indonesia, baru lah syarat minimum tinggi badan ditetapkan jadi 160 sentimeter.
Baru pada masa 1990-an, batas minimum itu dinaikkan jadi 163 sentimeter Mekanisme Pendaftaran .
“Dugaan saya penaikan batas tinggi badan itu agar menampilkan kesan gagah berwibawa, menyatakan taraf gizi dan tumbuh kembang anak Indonesia,” sadar dia.
Pengaruhnya pada operasional alutsista
Latihan militer TNI di Medan, Sumatra Utara.
SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Meski menilai kebijakan itu tak berdampak banyak, Fahmi mengakui bahwa untuk operasional alutsista dibutuhkan syarat tinggi badan tertentu, mengingat mayoritas alutsista Indonesia merupakan buatan luar negeri SETELAH UJI AKADEMIK, INILAH TAHAP YANG HARUS KAMU LAKUKAN SAAT MENDAFTAR POLRI .
“Misalnya untuk pesawat pertahanan udara tinggi badannya, jangkauan tangannya mesti sesuai. Apalagi alutsista kita kan produk luar negeri, desainnya dirancang lebih cocok bersama dengan kebutuhan pemanfaatan di negara-negara yang mempunyai badan rata-rata lebih tinggi dibanding Indonesia,” sadar dia.
Begitu pula untuk mengoperasikan tank sampai helikopter.
Namun untuk mengoperasikan alutsista itu, kata dia, dapat tersedia seleksi dan beberapa syarat lebih tertentu lagi yang ditetapkan.
Oleh sebab itu, Fahmi berpandangan kebijakan baru ini tidak dapat berpengaruh banyak pada operasional alutsista les kedinasan .
“Walaupun yang (tingginya) 160 sentimeter mendaftar kan belum tentu lolos juga, masih banyak aspek lain yang dinilai jadi saya memaknainya ini memberi ruang lebih besar bagi anak-anak muda untuk mendaftar,” kata Fahmi.
Selain itu, tersedia unit-unit di TNI yang menurut Fahmi tidak mengutamakan tinggi badan. Misalnya pasukan infantri di TNI Angkatan Darat yang tugasnya berada di garis depan pertempuran.
Justru bersama dengan peluang yang lebih luas ini, dia menilai Akademi Militer dapat mempunyai peluang yang lebih besar pula untuk merekrut calon taruna dan taruni bersama dengan “kompetensi terbaik” yang tidak senantiasa ditentukan oleh tinggi badan.
“Akan tersedia lebih banyak orang yang mendaftar dan selama seleksinya ketat, tidak tersedia kekuatiran bahwa kuota yang dibutuhkan susah dipenuhi, tidak mesti lagi tersedia dispensasi-dispensasi tertentu cuma untuk memenuhi kuota,” tutur dia.
Komentar
Posting Komentar